Arti Budidaya Perairan


Dulu, saya sering bertanya kepada siapa saja mahasiswa baru apa itu Budidaya Perairan, Agroteknologi, Biologi, atau apapun jurusan yang mereka ambil. Sekedar bertanya, sekedar ingin tahu saja. Setelah itu, banyak yang bingung menjawabnya, mikir keras, ada yang sok-sok pake menurut ini itu dan sebagainya. Lucu kalo diliat dan wajar saja kalau ada yang masih bingung walaupun ada yang bisa menjawabnya. Ketika menghadapi mahasiswa yang masih bingung menjawabnya, saya katakan saja Budidaya Perairan, Agroteknologi, Biologi, MSP, Agribisnis, dll adalah Jurusan yang ada Di Fakultas Pertanian, Perikanan, Dan Biologi Universitas Bangka Belitung.  

Lantas mereka tanggapi dengan kebingungan dan ada yang mengatakan salah. Lalu saya tanya lagi, dimana salahnya? Bingung mereka. Dari hal ini saya ajarkan mereka 2 hal, pertama berani menjawab (tidak takut salah), Kedua tidak berpikir rumit dulu, berpikir sederhana walaupun belum tentu benar. Disitulah letak pembelajaran. Dengan berani salah dan berpikir sederhana, mereka mampu menjadi benar untuk menyelesaikan hal sulit dengan sederhana. 

Sekali-sekali Coba saja dijawab begitu kalo ada dosen atau kakak tingkat yang nanya, kata ku”. Kalo mereka bilang salah, tanya saja dimana salahnya dan apa yang benar. Lalu, kalo ditanya siapa yang mengajarkan, sebut saja nama ku. Begitulah kata ku.”

Pada fase ini kalian akan belajar dan mengerti jawaban benarnya. Dari yang sebelumnya belum tahu, hingga akhirnya menjadi tahu. Berani menjawab walau salah, karena nanti pasti ada yang membenarkan. Karena terkadang banyak orang yang tahu tapi memilih bungkam karena tidak berani. Tapi, saya ingin adik-adik saya ini tetap maju dengan rasa takutnya untuk menjadi berani menjawab. Kelak, harapannya ketika sudah lulus nanti, mereka sudah selesai melakukan kesalahan dan dapat melakukan hal benar. Itulah harapannya. 

Walaupun masih banyak yang tak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sering saya lontarkan. Padahal, saya hanya ingin mengetahui sejauh apa keberanian mereka dalam menjawab walaupun salah. Ada yang tak peduli dengan apa yang saya tanya, ada yang bersemangat, ada yang lari karena takut ditanya. Begitulah tingkah mereka, karena memang tak semua orang dapat menerima apa yang kita sampaikan. Beberapa orang yang bersemangat saja sudah membuat saya senang. Bisa tersenyum lega karena masih ada orang-orang yang ingin belajar walau dengan hal konyol. Dan saya yakin, mereka akan jadi orang-orang yang memiliki kemauan. Hal konyol saja mereka mau, apalagi hal besar. Disitulah letak keyakinan saya, bahwa masih ada kemauan dari mahasiswa ini.

Tulisan kali ini saya ingin menjelaskan arti Budidaya Perairan itu sendiri. Saya Ajie Prayoga, Mahasiswa yang tumbuh dan dibesarkan di jurusan ini selama sudah hampir 3 tahun. Banyak kenangan dan pengalaman setelah 3 tahun saya lalui dengan perasaan yang kadang bahagia, kadang galau, kadang-kadang galau sambil bahagia. Tapi, pasang surut itu hal biasa. Asal kita terus melangkah dan jangan berhenti. Setiap fase pasti memiliki titik jenuhnya tersendiri. Lewati itu walau penuh keluh kesah. 

Kalo ditanya apa itu arti Budidaya Perairan, jawaban konyol saya adalah jurusan yang saya cintai. Terserah saya mau jawab apa. Kalo salah, itu urusan mereka yang menyalahkan. Karena mereka tak tahu perjuangan dibelakang, kenapa saya bisa mendefinisikan budidaya perairan sebagai jurusan yang saya cintai. Cinta tak tumbuh semudah itu. Ada hal-hal berharga yang membuat cinta itu tumbuh. Karena masih banyak orang yang masih belum mencintai apa yang mereka pilih dan jurusan yang mereka ambil hingga saat ini. Jadilah mereka tidak menikmati. Berbeda jika sudah cinta, menikmati dan merasakan kenyamanan. Ada keindahan dan kebahagiaan tersendiri. Sesulit apapun akan dihadapi karena sudah cinta. Karena setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu kata Tuhan ku.” Jadi, aku percaya. Beriman kepada apa yang di firmankan.

Kalo ada yang mendefinisikan Budidaya Perairan sebagai suatu kegiatan memelihara organisme akuatik dalam suatu wadah terkontrol untuk mendapatkan profit. Itu benar sekali dan memang itu jawabannya kalo saat ujian tiba.

Kalo ada yang jawab Budidaya Perairan adalah mengakali alam. Itu juga benar, karena didalam ilmu budidaya perairan kita dituntut membuat air yang berkualitas buruk menjadi baik. Diakali dengan berbagai perlakuan agar yang buruk jadi baik. 

Kalo ada yang jawab budidaya perairan adalah jurusan yang Ajie cintai. Itu juga tak ada salahnya. Tapi, jangan coba-coba di ujian jawab begitu. Pasti disalahkan sama dosennya. Walaupun jika ingin dicoba tak masalah. Mencoba berani sedikit. Kalo saya jadi dosen, ada mahasiswa seperti itu. Saya benarkan. Karena di pertanyaan sebuah ujian pasti soalnya apa itu budidaya perairan. Bukan budidaya perairan menurut ahli atau siapa itu. Kalo menurut saya itu, ya tak masalah. Bagian terpentingnya kita tetap tahu arti sebenarnya yang sesuai dengan kesepakatan para ahli. Carilah Ilmu bukan sekedar nilai walaupun nilai itu penting. Sampai bagian ini pasti ada yang tidak setuju dengan apa yang saya katakan. Sekali lagi tak masalah, saya selalu menerima ketidak setujuan seseorang akan pendapat saya. Memahami bahwa tak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Belajar menghargai orang lain. Malahan saya berterima kasih. Sedangkan, bagi yang setuju dengan pendapat saya. Teruslah maju dan berkarya sebagai orang bebas yang bersemangat. 

Terakhir, untuk adik-adik dan teman tercinta di jurusan budidaya perairan. Yang menjadi bagian bersejarah bagi jurusan ini. Teruslah berkarya, Terus bersemangat, jadilah kebanggan bagi siapa saja. Jurusan kita ini tidak hanya dibangun dengan canda serta tawa tapi dengan penuh keringat, cucuran air mata, dan caci maki orang-orang yang ingin menjatuhkan. Tapi, disitulah yang membuat kita kuat. Yang membuat kita untuk menjadi hebat. 

Kalau ditanya apa arti budidaya perairan bagi kalian? Jawablah sendiri. Jika itu memiliki arti, jika kalian sudah mencintai. Berikan usaha terbaik bagi jurusan ini dengan karya-karya kalian. Jika belum, temukan alasan kenapa kalian harus mencintainya. Misalnya, saya cinta jurusan budidaya perairan karena ada seorang Ajie Prayoga yang ganteng. Itu bagus sekali, jadi penyemangat. Nanti kita foto bareng biar bisa liat trus gantengnya. Ini serius ga pake bercanda. Karena dibercandain itu sakit apalagi masalah hati. *malah curhat. 

Selamat menemukan arti itu!

Tersesat yang Benar

“Kalau kalian masuk jurusan Budidaya Perairan, Berarti kalian tersesat di jalan yang benar”

– Andri Kurniawan

3 tahun lalu masih jelas diingatan ku akan kata-kata itu. Kata-kata yang dikeluarkan oleh seorang dosen yang hingga kini menjadi penyemangat untuk terus bertahan dan berkarya di jurusan ini. Sebuah kata sederhana tapi bermakna. Kata yang hingga kini masih sulit untuk ku iyakan secara logika. Sejak kapan ada tersesat yang benar? Sejak aku mendapatkan kata-kata itu pikir ku.

Dosen itu bernama Andri Kurniawan. Dosen yang lebih mirip mahasiswa tapi berwibawa. Seorang yang keras kepala dengan prinsip men nek pasti pacak ( kalau mau pasti bisa). Tak tinggi tapi berilmu tinggi. Dan mengajarkan banyak hal kepada diri ini untuk terus berkarya dan berkarya. Jadilah yang pertama, karena yang pertama akan selalu dikenang. Begitulah katanya. Semangatnya membara, senyumnya mempesona (ketika baca ini pasti senyum sendiri pak andri). Begitulah gambaran tentang bapak ini. Orang biasa yang sebenarnya luar biasa. Yang pernah cerita dirumahnya hingga lewat jam 12 malam, bahkan kami pernah diajak menginap. Musui (minum air tahu) bareng. Masak mie pagi-pagi dirumahnya. Jalan-jalan ke air terjun dalil. Ahhh, terlalu banyak kenangan yang belum bisa diceritakan.

Pagi ini, ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri. Aku ingin bercerita tentang makna tersesat dijalan yang benar setelah 3 tahun berlalu dan memikirkan maksud itu semua. Tulisan ini ku dedikasikan kepada beliau karena ada suatu kerinduan. Kerinduan karena tlah meninggalkan kami semua selama 1 tahun untuk S3. Mungkin banyak teman yang kehilangan semangat, kehilangan motivasi. Semua terjadi karena sebuah rindu. Terimakasih rindu, terimakasih jarak yang telah hadirkan rindu. Semoga ketika berjumpa semua menjadi manis. 

Mari kita mulai tulisannya, semoga adik-adik jurusan budidaya perairan bisa membacanya. Agar semangat, agar kuat, agar terus berkarya untuk jurusan kita tercinta. Jagalah marwah jurusan budidaya perairan. Itulah pesan kakak. Jadilah Ar Ruhul Jadid (Jiwa Baru) bagi agama serta dunia. Karena ditangan kitalah masa depan itu.

                                  ***

“Tersesat di jalan yang benar”, kata yang terus menjadi pikiran ku setelah mendengarnya untuk pertama kali. Suatu kata yang digunakan untuk meyakinkan kami semua bahwa tak salah memilih jurusan budidaya perairan. Jurusan yang mungkin tak begitu dikenal banyak orang, tapi harus terus berkarya karena bisa jadi dikenal tuhan. Begitulah akhir dari pemikiran ku tentang kata-kata itu. Bahwa mungkin menurut kita, kita salah masuk jurusan ini. Tapi, tuhan tempatkan kita di tempat itu karena itu menurutnya benar. Agar kita bisa berkarya dan membuktikan diri. Bisa saja ketika ditempatkan ditempat yang lain akan berbeda hasilnya. Itulah yang kurasakan saat ini. 

Dulu, 3 tahun lalu aku ingin masuk ITB. Tempat kuliah favorit anak bangsa. Jika tak dapat disana kuputuskan di UBB saja. Walaupun pernah disuruh daftar STAN, STIS, IPDN, dan sebagainya, tapi aku hanya menyiapkan berkas tak pernah ikut seleksinya. Semua karena kata tersesat dijalan yang benar. Sebuah kata yang meyakinkan diri bahwa tuhan telah tempatkan aku dijurusan ini. Jadikanlah batu loncaran agar terus berkarya dan berbuat sesuatu, begitulah pikirku yang Tuhan mau. Karena apapun jurusan mu, bagian terpenting adalah kebermanfaatan bagi semua orang. Di akhirat nanti, yang ditanya adalah apa yang telah kita lakukan di dunia. Bukan apa jurusan kuliah mu. Dan itu menjadi penambah keyakinanku untuk berkarya dan bertahan di jurusan ini. Menjadi yang pertama di angkatan pertama untuk terus berkarya. Agar dikenang. Karena yang terbaik akan selalu ada.

Dan setelah 3 tahun berlalu aku sadar benarnya kalimat itu. Selama dijurusan ini aku menemukan banyak keajaiban yang tuhan berikan. Bisa bertemu dosen-dosen yang luar biasa, teman-teman yang banyak kebersamaan didalamnya, ikut konferensi nasional di surabaya, ikut kegiatan monitoring tentang hiu yang ada di bangka belitung dimana tiap jam 3 atau 4 pagi sudah harus di Tempat Pelelangan Ikan untuk mendata ikan yang tertangkap dan dilakukan selama 3 bulan, menjuarai Artikel tentang pajak (padahal anak ikan), pernah lolos PKM walaupun waktu itu anggota, Jadi juara 1 Mahasiswa Berprestasi di Jurusan dan Fakultas, jadi Bendahara BEM FPPB lalu menjadi Wakil Gubernur BEM FPPB, ikut Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan di Kepulauan Riau, dan banyak lagi keajaiban-keajaiban yang terjadi setelah aku masuk kejurusan ini. Semua karena kata-kata tersesat dijalan yang benar. Kata yang terus aku yakini karena ini keputusan yang tuhan buat untuk diriku. Tinggal aku mau berkarya atau tidak, meratapi nasib atau bergerak maju meyakini takdir yang tuhan berikan. Karena Tuhan sesuai prasangka Hambanya. Ketika kita berprasangka baik, maka hasilnya akan baik. Begitupun sebaliknya.

Jadi, buat adik-adik yang baru masuk atau yang udah semester tua. Tanyakanlah pada diri kalian. Apakah masih tersesat atau tidak? Apakah yang tuhan ingin kita lakukan ketika dia tempatkan kita di jurusan ini? Teruslah bertanya. Buka diri kita diantara ruang dan waktu. Lihatlah betapa indahnya dunia yang maha luas ini. Yakinlah bahwa kalian tersesat dijalan yang benar. Saya telah membuktikan itu semua setelah 3 tahun lalu merasa galau yang luar biasa. Tinggal anda yang harus membuktikannya. Apakah kata yang saya ucapkan ini benar atau tidak. Semua kembali kepada adik-adik semua. Kalian mau menjadi bagian mana? Menjadi yang menggerutui nasib atau bergerak untuk terus berkarya. Semua kembali kepada kalian. Jika belum menikmati, dijalani saja dulu. Yakinlah kalian akan merindukan masa-masa ini setelah menjadi semester tua seperti kakak ini. Penuh kenangan. Karena setiap hal ada fasenya. Kita hanya harus bersyukur dan jalani sebaik-baiknya. Berikan usaha terbaik kalian. Kalian pasti bisa, kalian pasti mampu. Yakinkan itu pada diri kalian. Buatlah suatu kebanggaan bagi bumi pertiwi ini. Buatlah kebanggan bagi orang tua dirumah sana. Jadilah orang yang bermanfaat bagi sesama. Dan hiduplah bahagia dengan rasa bersyukur. Jadilah Ar Ruhul jadid fi jasadil ummat (Jiwa Baru di Tubuh Umat). Itulah pesan kakak.

Dan teruntuk pak Andri Kurniawan, tak tahu apakah rasa terima kasih pantas untuk diucapkan. Jika ada kata yang lebih dari terimakasih mungkin itulah yang ingin diucapkan. Atas semua hal yang diberikan ketika bersama, saya ucapkan terimakasih. Kata-kata itu, kata tersesat dijalan yang benar telah membawa pengaruh besar selama saya kuliah di jurusan ini. Kata yang penuh keyakinan dan makna jika dipikirkan dengan penuh perenungan. 3 tahun sudah saya tak temukan jawaban hingga saya temukan jawaban atas maksud perkataan itu. Dan perkataan itu benar adanya asal kita meyakininya sepenuh hati dengan keimanan pada tuhan selaku penentu kehidupan. 

Ada banyak hal yang ingin diceritakan dan dirindukan. Semoga kita tetap menjadi orang-orang yang beriman, selalu mensyukuri apa yang terjadi, selalu bisa bahagia dan membahagiakan, selalu sehat dan dapat dipertemukan kembali untuk berbagi pengalaman tentang kehidupan atau apa saja. Karena “Men nek pasti pacak (kalo mau pasti bisa)”. Terimakasih bapak! Semoga ada ruang bagi orang-orang yang rindu untuk bertemu. Suatu hari nanti jika tak temukan diri ini disurga, carilah saya pak. Karena setidaknya kita pernah saling mengingatkan tentang tuhan dan menjaga keimanan kepada tuhan semesta alam. Sampai bertemu dalam senyuman yang terlukis dengan indah. 

Akhir kata, terimakasih juga kepada dosen jurusan budidaya perairan. Pak Eva selaku kajur, Pak deni selaku sekjur, Pak Ardiansyah, Pak Robin, Pak Fahrul, Pak Hari, Bu Suci, Bu Dwi, Bu Ocha, Bu Endang. Terimakasih telah mendidik saya dan semua mahasiswa jurusan budidaya perairan. Semoga pahala selalu mengalir kepada kalian semua. Aamiin.

“Percayalah bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia. Satu tetes keringat yang jatuh ke bumi pun sangat berharga ketika kita melakukan usaha terbaik dan berjuang untuk memberi kebermanfaatan dan melakukan pengabdian.”

Semangat!! Teruslah Berkarya!

Banyak orang pintar tapi beda dengan orang cerdas. Orang pintar banyak ide tapi belum tentu dikerjakan, orang cerdas punya satu ide dan dikerjakan. Kita yang mana?

Selamat merenung arti hidup!

Sebuah Tempat, Sebuah Cerita (Part 3)

Hujan,

Datang membawa kenangan, Pergi tinggalkan kenangan. 

Saat itu, aku sedang menikmati lagu “Dear Friends” ciptaan Triplane. Lagu yang berasal dari film one piece yang membawa suasana perpisahan dengan kapal Going Merry ini sungguh memberi suntikan semangat untuk ku menulis. Bahwa sebuah persahabatan apalagi cinta yang harus dipisahkan itu sungguh berat untuk terjadi. Tapi, kita harus tetap move on. Betapa keindahan dan perjalanan yang telah dilalui bersama sungguh sulit jika harus berpisah. Ada haru serta bahagia karena pernah bersama.

Ditemani hujan ini, aku ingin bercerita kembali tentang kisah KKN Kebangsaan. Ini adalah part 3. Bagian ketiga ini berkisah tentang bagaimana suasana posko yang biasanya berbahasa melayu ataupun Indonesia menjadi hancur dengan datangnya Ali. Lalu ada kisah cinta Ali dengan teman KKN kami. Itulah isi bagian ketiga ini.

Ali adalah peserta KKN Kebangsaan yang berasal dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Seorang mahasiswa sekaligus dosen yang sedang mengambil Ph.d di bidang nanoteknologi. Seseorang yang tidak bisa berbahasa melayu karena dilahirkan di irak. Dan disukai seorang teman KKN kami.

Sore itu 28 Juli 2016, Ali mengabarkan kami di Line bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju posko. Waktu itu, kami sedang mengerjakan program rumah belajar dan ada yang mandi dipantai sembari mengambang diatas air kaya paus.

Malam harinya waktu makan malam adalah hari pertama kami makan bersama Ali. Makan malam waktu itu kami sediakan nasi dengan ikan dan sayuran. Ntah dia akan makan atau tidak, pokoknya hajar saja. Kalo dia sampe ga makan palingan kelaperan. Sembari makan Ali bercerita dengan bahasa inggris. Teman-teman yang tidak mengerti apa yang Ali katakan tertawa saja, sekedar mengiyakan apa yang diceritakan. Karena terus terang dia ngomongnya sedikit cepat walaupun lebih cepat dewi yang udah kaya balapan motor cepatnya. Pokoknya ga ada yang nandingin kecepatan dewi kalo ngomong. 

Setelah makan, kami kembali bercerita dan Ali memberi kami Oleh-oleh coklat yang dia bawa. Ada canda, tawa, dan kebingungan karena gatau Ali ngomong apa. Pokoknya Iya-in Aja. Untungnya waktu itu gue ngerti apa yang Ali omong. Seenggaknya taulah ini bule ngomong apa. Inilah awal hancurnya bahasa di posko kami terutama tempat tidur cowo yang beda tempat dengan cewe. Cewe tidur ditempat pak RT sedangkan kami di sanggar penyu dan tiap malem harus menghindari gigitan lipan dengan menaburkan garam. Penuh kenangan sekali sanggar kami itu dan tak akan bisa dilupakan. Dan sekedar info kalo udah 4 orang yang digigit lipan. Musa, Marianus, Adi, sama reza. Pasti kenangannya ga bisa meraka lupakan. Sisanya selamat karena udah naburin garam disekeliling tempat tidur.

Hari-hari kami lewati dengan bahagia walaupun ada beberapa orang yang kesal dan bete dengan tingkah si bule. Tapi, itulah keberagaman. Setiap orang punya sifatnya masing-masing. Tugas kita hanya menerimanya. Walaupun waktu itu banyak yang gatau ali ngomong apa, tapi dari dia kami bisa belajar melancarkan dan menginggriskan lidah kami. Ali pun begitu, dia belajar bahasa Indonesia kepada kami. Setidaknya dia bisa mengucapkan beberapa kata seperti, “Selamat Makan”, “Apa kabar”, “Saya Ali” dan kata-kata lainnya. Saling bertukar bahasa. Pokoknya kacau sekali bahasa kami ketika Ali tiba, tapi disitulah letak kenangannya. Kalo ga gitu, mana mungkin kisah ini bisa diceritakan kembali. Ya gak?

Kami dan Ali sering bermain boomerang. Berbagai macam ekspresi ketika bermain boomerang kami lakukan. Lucu sekali dan penuh kebahagiaan. Bahkan sampai sekarang masih kerasa kebersamaannya. Ali suka ngeteh, sehari bisa 4x. Abis makan teh, sore teh, pagi teh, malem teh. Selalu pengen teh. Lebih cinta sama teh katanya. 

Selain dekat dengan gue selaku translater, Ali juga dekat dengan meka yang lebih jago bahasa inggrisnya dari gue. Meka ini orangnya pendiem, baik hati, agak keras kepala, pinter, dan gabisa romantis. Kaku orangnya. Tapi, disitulah keunikannya. Lucu kalo liat dia yang gabisa ngerayu. Kalo jagoan ngerayu itu si nia. Pokoknya bisa aja ngerayu. Buktinya si nia bisa jadian sama anak pak kades. Warbiasyahh kan rayuannya. Maut sekali.

Tapi, Ali suka sama meka bukan sama nia yang jago ngerayu. Meka pun begitu. Selain karena meka ngerti Ali ngomong apa, kata Ali meka itu orangnya baik hati, hatinya lembut dan sosoknya keibuan. Itulah Yang buat Ali suka. Abis baca ini meka pasti ngefly dan pasti senyum-senyum sendiri. Ga nyangka kalo Ali bilang gitu. Buat meka, ini jujur mek ga pake bohong. Gausah tanya sama Ali karena ini boy secret. Dan gamungkin bilang gitu ke kamu sekarang , pasti dia malu  Karena ali pasti jaga image. Kalaupun dia udah kasih tau, selamat. Dia sayang sama kamu walaupun hubungan antar 2 negara itu agak susah. Jangankan 2 negara, satu negara beda pulau aja buat rindu apalagi beda negara. Rindu aja butuh paspor kalo beda gitu. Coba sekali-sekali kalo ditanya pihak imigrasi kenapa ke malaysia, jawab aja pengen ngobatin rindu. Siapa tau dikasih gratis kesana kamunya mek. Dicoba ya!

Waktu demi waktu terus berlalu, banyak cerita tentang meka dan Ali. Dan ceritanya nanti aja diceritain. Minta izin dulu sama meka dan biarkan meka yang cerita nantinya. Cerita bagaimana mereka melihat ali dari sudut pandang dia. Dan gue hanya menulis aja. Menceritakan kembali. Sekaligus biar tambah penasaran gimana kisahnya. Kisah meka yang marahan, baikan, ketemu lagi malaysia. Banyak deh. Tunggu aja kisahnya.

Makna Mahasiswa Berprestasi

Berbicara tentang mahasiswa berprestasi, berarti berbicara tentang pengabdian kepada negeri. Itulah Makna mahasiswa berprestasi menurut ku. Bahwa seorang mahasiswa berprestasi bukan hanya harus pintar, tapi juga harus berbagi, menolong, dan dapat membahagiakan siapa saja. 

Tahun ini, aku mewakili jurusan budidaya perairan untuk menjadi mahasiswa berprestasi (Mawapres) di tingkat fakultas dan universitas. Tahap awal aku lalui di tingkat jurusan. Awalnya aku tak berniat ikut seleksi mawapres tahun ini, hal ini disebabkan ada berbagai kegiatan serta kesibukan yang kurang waktu dalam menyusun karya tulis ilmiah. Bahkan ide pun belum ada kalau ingin ikut pemilihan mawapres tahun ini. Tapi, karena kata kajur tercinta aku wajib ikut dan kalau menolak ada konsekuensi yang harus ditanggung maka aku jadi ikut mawapres tahun ini. 

Waktu itu, proses seleksi tingkat jurusan tinggal 3 hari lagi dan aku masih belum punya ide karena ikut pemilihan ini mendadak dan agak terpaksa. Tapi, dari terpaksa itulah aku belajar bahwa kadang kita harus dipaksa dulu agar sadar untuk maju. Bahwa kekuatan kepepet itu sungguh luar biasa. Hal pertama yang aku lakukan agar mendapatkan ide adalah memutar playlist galau sambil membaca dan membaca tentang apa yang aku sukai. Karena aku menyukai pendidikan, maka tahun ini aku ingin membuat karya tulis tentang pendidikan. Selain karena sudah sering dilakukan, sudah mengerti apa saja yang harus dilakukan. Akhirnya aku memilih pendidikan tentang kemaritiman untuk ikut seleksi tingkat jurusan. Setelah itu, ku cari dan terus mencari *kaya lagu gitu* Jurnal serta berita untuk menjadi acuan serta pustaka dalam penulisan karya ilmiah ini. Berhubung waktunya ketika ide sudah ada itu tinggal 1 hari, maka aku buat seadanya saja. Tak apalah dimarahi KTInya ketika di hadapan juri nanti, aku kuatkan saja di presentasi, ide, serta wawancara nanti. Kali ini ambil resiko seperti ini karena waktunya terlalu singkat. Dan benar kataku, aku dibantai habis-habisan karena proposalnya sungguh jelek sekali walaupun ide dan presentasi serta wawancaranya bagus dan menarik. Tapi, itu sudah ku duga dan sudah disiapkan strategi penyelamat dipresentasi dan wawancara serta ide. Dan ketika pengumuman aku dinyatakan sebagai perwakilan jurusan untuk ikut seleksi di tingkat fakultas. Ada rasa senang karena bisa mewakili jurusan, ada rasa bangga karena ini adalah kedua kalinya mewakili jurusan untuk ikut kegiatan serupa walaupun tahun lalu hanya dapat peringkat 3 di tingkat fakultas, ada rasa bete juga karena harus nyiapin berkas-berkas dan memperbaikin proposal KTI yang acak adut naudzubillah. Pokoknya perasaan waktu itu campur aduk. 

Tahap kedua ditingkat fakultas aku berusaha melakukan yang terbaik, hal ini dikarenakan aku akan mewakili jurusan bukan hanya diriku saja. Sebagai perwakilan jurusan aku harus memberikan yang terbaik dari yang aku punya karena membawa nama jurusan. Ku rombak abis KTInya walaupun dengan ide yang sama tapi isi berbeda. Rela begadang sampe jam 4 pagi hampir tiap hari demi perbaikin proposal yang acak adut. Inilah resiko ketika awalnya ga terlalu serius. Tapi, dari semua ini aku belajar banyak hal. Kadang, sengaja menguji kemampuan diri sendiri apakah mampu melakukannya dengan melakukan hal-hal yang menantang. Dirumah ngomong bahasa inggris sendiri biar ntar lancar didepan juri. Dalam hati, aku harus memberikan yang terbaik bagi jurusan walaupun ketika ditanya aku terlihat santai dan senyum-senyum saja. Menjadi lucu dan slengean seperti biasanya. Karena aku lebih jadi orang yang santai dalam pembawaan tapi bisa serius dalam pemikiran. Itulah aku dengan berbagai keunikan yang dimiliki.

Akhirnya, seleksi tingkat fakultas pun tiba. Aku mendapata giliran nomor 5. Berbekal pengalaman tahun lalu aku lebih santai dan menikmati saja proses ini. Karena aku tau badai pasti berlalu walaupun saat-saat melewati badai itu adalah hal terindah yang penuh deg-degan dan perlu perjuangan ekstra. 

Tibalah giliran ku untuk presentasi, dengan cara presentasi yang santai tapi bersemangat ku jelaskan semua tentang ide dan apa saja yang akan aku lakukan. Bahwa KTI yang aku buat menggambarkan semangat akan kemajuan pendidikan di Indonesia. Banyak dosen bertanya-tanya kenapa aku tak mengambil tentang penelitian seperti kompetitor lainnya. Aku jawab saja, walaupun aku seorang anak ikan tapi aku mencintai anak-anak dan pendidikan. Tlah banyak pengalaman dan hal-hal yang dilalui bersama anak-anak yang butuh pendidikan. Dan aku menyukai berbagi dengan mereka, bermain bersama. Itu lebih menyenangkan daripada meneliti yang sungguh menghabiskan tenaga dan pikiran walaupun aku juga menyukai penelitian. Tapi, kecintaan kepada anak-anak lebih besar dari itu semua. Pengabdian kepada pendidikan mengalahkan hal lainnya. Karena mencerdaskan kehidupan bangsa lebih penting daripada meneliti. Itulah pemikiran ku waktu itu walaupun tak ada yang boleh di bedakan.

Waktu pengumuman tiba dan tak diduga aku menjadi perwakilan fakultas untuk bersaing ditingkat universitas. Perasaan ku campur aduk waktu itu, aku bertanya dalam hati kepada tuhan. Apakah ini caranya agar aku berusaha dan berjuang lagi. Kalo tuhan ingin begitu, tuhan berhasil. Ada rasa bangga karena bisa membawa piala kerumah dan menunjukkan kepada orang tua tercinta. Ada juga tanggung jawab bahwa ketika menjadi mawapres di fakultas berarti harus lebih banyak berkarya dari teman-teman lainnya. Harus lebih banyak berbagi dan berbagi. Sungguh campur aduk waktu itu. Tapi, tetap santai dan semangat. 

Aku harus banyak bersyukur bahwa perjuangan itu tak pernah sia-sia. Kulihat senyum sumringah dari dosen di jurusan ketika ku bawa piala juara. Hal  itu sudah membuat hati ini senang. Bahwa setidaknya ada hal yang bisa ku berikan kepada jurusan ini sebelum wisuda nanti. Ada kenangan yang dikenang tentang diri ini. Semoga saja piala itu abadi dijurusan sana dan tidak hanya sebagai piala usang. Aku harap setiap adik-adik yang melihat piala itu bisa menjadi motivasi untuk terus berkarya dan membawa nama baik jurusan. Menjadi kebanggan jurusan ini. Untuk ku, semoga terus berkarya dan berkarya lagi dan tidak cepat berpuas diri karena masih banyak tantangan didepan sana. 

Tahap ketiga, ditingkat universitas. Ditingkat universitas tak ada juara 1,2,3, hanya ada namanya perwakilan universitas untuk ikut seleksi nasional. Dan waktu itu yang mewakili adalah Tomi sah. Kalau ditanya apakah kecewa? Aku rasa tidak. Karena aku tau kualitas seorang tomi sah dan aku bangga dia yang terpilih. Aku hanya harus terus maju dan maju. Terus berkarya dan berkarya. Karena bagiku seorang mawapres bukan hanya gelar bahwa dia mawapres. Mawapres lebih dari itu semua. 

Seorang dikatakan mawapres ketika dia bisa memberi kebermanfaatan bagi sesama. Jika tidak, untuk apa gelar bernama mawapres itu. 

Masih banyak orang-orang disekitar yang butuh pertolongan, yang butuh kita buat tersenyum dan bahagiakan. Bahagiakanlah mereka. Jadilah kebanggan Tuhan yang telah memberi kita kehidupan. Tetap semangat dan terus bersyukur. 

Kita semua dapat menjadi mahasiswa berprestasi! Teruslah berkarya! Bagian terpenting adalah kita dimata tuhan bukan manusia!

Hiduplah bahagia!

Ajie Prayoga Sani

 

Jarak, Pencipta Rindu

Namanya Jarak, Sukanya mencipta rindu. Sebuah kata yang ga disukai banyak orang kalo berarti jauh. Termasuk aku. 

Aku Ajie, orang lucu yang kerennya lagi otw. Katanya dia gitu, Aku percaya aja. Soalnya keren ku saat sama dia nanti. Aku suka apa aja dan bakal diem kalo lagi laper. Itulah aku. 

Dia Karina, orangnya gamau kalah lucu dari aku. Suka apa aja termasuk kelahi manja sama aku. makan banyak tapi bakal dikit kalo aku ingetin. Dihadirkan tuhan karena aku suka yang lucu. Makanya tuhan berhasil buat aku suka dia. Itulah karina.

Kita, Dua orang yang ga sengaja dipertemukan tuhan. Memiliki banyak persamaaan dan itu yang buat akrab. Sama-sama lucu misalnya. Tapi, takdir tuhan masih memisahkan. Belum ingin mempertemukan dalam waktu yang lama. Cukup pertemuan singkat. Biar rindu. Biar ada yang ditunggu. Aku pikir begitu yang tuhan mau. 

Waktu, yang terus kami lewati. Hanya memandangi chat-an lucu dan buat senyum memekar. Memberi perhatian, memberi kebahagiaan, walau tanpa pertemuan. Hingga muncul lah kerinduan. Dasar jarak, selalu saja butuh perjuangan.

Kisah, yang akan aku ceritakan. Sebuah janji kepada dia untuk ku tuliskan. Dia, yang sekarang telah menginspirasi ini pikiran. 

Mari kita mulai kisahnya,

“Perjumpaan akan selalu menghasilkan harapan, Perpisahan akan selalu meninggalkan kenangan. Namun, perjumpaan dan perpisahan aku dan dia membawa kerinduan.” 

Itulah kalimat pembuka kisah ini. Tulisan yang akan bercerita tentang hal-hal yang kami lalui setiap hari dengan menyimpan keinginan untuk bertemu. 

“Bangun Kar Bangun, itulah kalimat setiap pagi yang aku ucapkan”. Tak ada romantisnya sama sekali. Untungnya dia tak pernah protes, kalaupun dia protes setelah baca tulisan ini aku ubah saja kata-katanya jadi “Karina bangun, kalo ga bangun nanti aku diambil orang, tapi tenang. Aku tetep suka kamu. Gausah takut” semoga saja dia tak protes dengan aku yang begitu belum romantis. Setelah itu, kami melewati jam demi jam dengan berbagi cerita dan kisah apa saja yang kami alami. Saling mengerti dan memaklumi. Itulah yang bisa kami lakukan daripada menggerutui jarak. Asal ikhlas pasti ada jalan untuk pertemuan. 

Malam harinya, hampir sama namun kadang ada dia yang ketiduran. Si karina emang gitu, suka ketiduran. Bisa tidur dimana aja termasuk diatas motor. Itu yang buat aku khawatir, khawatir kalo dia bawa motornya sendirian dan ketiduran. Kalo sama aku naiknya gapapa, karena dia bisa tidur deket aku. Ada yang jagain. Ada yang ngangetin. Begitulah hari-hari kami, menyenangkan walau tanpa pertemuan. Suka senyum-senyum sendiri dan suka guling-guling sendiri diatas kasur kalau membayangkan.

Pernah suatu malam dia cerita tentang dia dulunya pernah disakitin. Mendengarnya saja aku sedih apalagi jadi dia yang merasakannya. Tega sekali aku bergumam dalam hati. Kemudian, aku tanggapi dengan gaya khas ku yang udah kaya orang ahli aja dalam hal percintaan. Padahal pernah gagal juga. Tapi, pengalaman selalu mengajarkan banyak hal. Dari kegagalan kita belajar untuk berhasil. 

Hari dimana aku mendengar kisah itu, aku tau bahwa aku tak boleh begitu. Setidaknya aku harus selalu memberi senyuman walau dengan hal kecil. Aku harus berusaha membuatnya lupa akan hal mengecewakan itu. Aku harap itu berhasil. Walaupun aku tak tahu apa yang bakal terjadi esok, setidaknya hari ini aku sudah membuatnya tersenyum. Itu sudah cukup dan buat aku bahagia.

Dan asal tau saja, mulai saat dimana kami akrab aku selalu tersenyum bahagia dengan kehadirannya. Jika tuhan hadirkan dia agar aku selalu tersenyum, Tuhan berhasil (lagi). Aku harus bersyukur atas ini semua tanpa menggerutui jarak. Selama itu buat bahagia, tak mengapalah aku merindu dan menunggu. 

Buat karinaaaa, Inget kata dilan.

“Kalo rindu. biar ajie aja yang rindu. Karina jangan. Nanti ga kuat.”

Suatu hari, dimasa depan. Aku melihat pertemuan kita. Masa dimana ada kebersamaan. Hanya perlalu yakin dan biarkan tuhan mewujudkan. Kita, hanya perlu berdoa dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Sekarang kita berteman, gatau besok. Jalani aja apa yang ada pada detik ini. Semoga ada jalan bagi orang-orang yang merindu untuk bertemu. Selamat menunggu!

Sebuah Tempat, Sebuah Cerita (Part 2)

Tak lagi sama . . .

Itulah perasaan yang saat ini kami rasakan. Perasaan setelah begitu banyaknya melewati cerita bersama, namun harus berpisah sebegitu cepatnya. Ibarat senja yang disegerakan malam, Indah namun sesaat.

Pertemuan ini bermula di tanah gurindam 12 atau yang sering disebut Kepulauan Riau. Sebuah tempat yang mempertemukan, menyatukan, dan dirindukan. Sebuah tempat yang mengawali kisah ini.

Awal kisah ini dimulai dari Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan atau KKN Kebangsaan. KKN Kebangsaan dengan slogannya Pemersatu Bangsa telah berhasil mempersatukan kami semua. Putra Putri yang (katanya) terbaik dari seluruh Indonesia. Yang akan mengawali perubahan kecil di desa terpencil diantara gugusan pulau-pulau kecil. 

Kami 16 peserta dari 600-an peserta KKN Kebangsaan waktu itu ditempatkan di suatu kawasan bernama Kampung Baru. Kawasan ini berada di desa sebong lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Sebuah kawasan yang ibarat surga (walaupun kami belum pernah ke surga, tapi kami percaya surga itu indah) namun terasingkan oleh jaman serta waktu. Sebuah tempat yang (masih) bertahan diantara megahnya kehidupan di antara kawasan tersebut. Surga didalam surga, begitulah kami menyebut kawasan kampung baru. 

Kalau ada yang sering mendengar kawasan wisata lagoi, didalam situlah kampung baru berada. Diantara banyan tree dan Sanchaya resort. Sebuah resort yang begitu mewahnya berdiri, sebuah resort yang untuk menginap disana saja bisa seharga satu mobil avanza + Rumah sederhana. Begitu murah sekali  kalau kita ada uang sebanyak itu.  
Kampung baru merupakan sebuah tempat yang telah bertahan lebih dari 50 tahun. Namun, tak dapat maju karena masalah-masalah yang dihadapi. Bahkan untuk listrik saja hanya dinikmati 5 jam/hari. Dimulai dari pukul 18.00 – 23.00. Setelah itu, rembulan akan setia menemani malam kami. 

Tapi, semua itu menimbulkan kenangan yang begitu membekas hingga kini. Kenangan yang tak akan pernah bisa tergerus waktu serta zaman. Kisah yang membuka mata, membuka hati kami semua bahwa masih ada saudara se-tanah air kami yang harus dibantu, yang harus diperdulikan, dan yang sangat-sangat harus disayangi serta dicintai karena mungkin tak dapat menikmati hal yang sama seperti yang kami dapatkan di daerah kami. 

                                 ***

Suatu pagi, di hari pertama kami terbangun di antara sinar matahari yang menyengat. Kami melihat begitu banyak warga yang sedang bergotong royong membuat jalan. Waktu itu kami sedang rapat membahas program selama KKN Kebangsaan. Setelah selesai membahas program beberapa dari kami ada yang membantu mengangkat pasir dan pavling blok, ada yang mencuci baju, ada yang memasak, dan ada yang menikmati keindahan alam karya tuhan yang maha mengindahkan. Semuanya selalu membuat kami takjub. 

Ketika itu, ady dan zirwan sama-sama membantu mengangkat pasir dengan 2 buah arko dan sekop ditemani oleh bang ijal sembari bercerita tentang desa dan bercanda mesra. Sementara Ben, Reza, Sheldon sibuk dengan mencuci pakaian mereka, menimba air dengan mesranya. Ibarat pasangan kekasih yang sedang menikmati bulan madu. Begitu asik dan dipenuhi senyuman. Sedangkan yang para wanita sibuk dirumah pak rt, memasak untuk kami agar tak kelaparan karena akan menghabiskan banyak tenaga untuk membangun jalan. Sementara itu, marianus juga mau mencuci baju, namun ditinggal oleh 3 orang tadi. Lain hal dengan musa sebagai ketua kelompok yang harus pergi ke kantor desa dan Aku hanya duduk sendiri diatas posko mengamati dan memandangi mereka sembari bersiap-siap membantu pembangunan jalan. Menyiapkan diri untuk berjuang diatas terik sinar matahari untuk mengeksotiskan kulit ini.
Begitulah kegiatan kami hingga pukul 11 siang. Setelah itu, kami beristirahat dan bersiap-siap menikmati masakan hasil kerja keras para wanita yang katanya pandai memasak itu. Saat makan, musa memimpin doa dan kami pun segera menikmati masakan itu dengan lahapnya. Gimana ga lahap, abis kerja bangun jalan dibawah terik panas matahari.

Waktu itu, kami disuguhkan ikan goreng dan sayuran yang sangat memanjakan lidah kami yang kelaparan. Namun, kasian sheldon karena dia tak suka ikan, dia lebih suka kamu. Iyaa kamu. Ga deh ini bercanda. Sheldon gamau makan ikan karena katanya ga enak atau dulu mungkin dia pernah mimpi ditelan ikan paus dan dikutuk sama si paus agar gaboleh makan ikan lagi. Kasian banget sheldon. Mungkin dia harus nemuin cinta sejatinya dulu baru bisa makan ikan. Kaya di film-film putri tidur gitu lohh. 

Setelah makan,  kami yang cowo kembali ke posko. Ada yang tiduran, ada yang dengerin lagu, ada yang bersenda gurau, ada yang nyuci, ada yang galauin pacar yang jauh dimata tapi katanya dekat dihati, ada juga yang selalu ganteng kaya penulis. Itulah kegiatan kami pada hari pertama disana sembari memperkenalkan diri dengan warga kampung baru dan membantu pembuatan jalan lagi pada sore harinya.

                                   ***

Sore menjelang senja, kami bermain bola bersama adik-adik dikampung baru. Menikmati kebersamaan bersama adik-adik disana, penuh cinta dan bahagia. Ada senyuman, ada anak-anak yang berantem karena dikatain kalo kalah, ada yang ngambek main karena gamau jadi kiper, penuh kelucuan dan sampai sekarang sangat membekas sekali rasanya saat itu. Indah sekali.

Menjelang maghrib di mushola, reza berbincang-bincang dengan bapak-bapak di mushola. Menanyakan tentang bacaan al quran anak-anak dan segala hal apa saja yang kiranya dibutuhkan untuk menambah pengetahuan bagi anak-anak dikampung baru. Setelah panjang lebar melakukan diskusi dengan warga dimushola, akhirnya reza menyampaikan kepada kami bahwa dia berniat membuat program baca Al quran dan ilmu agama. Kami pun menyetujui dengan penambahan pelajaran-pelajaran umum untuk anak-anak dan menamakan program tambahan ini dengan Rumah Belajar dan reza sebagai penanggung jawabnya. Kegiatan ini dilakukan setiap hari kecuali hari sabtu pada pukul 16.00 dan sehabis maghrib dengan jadwal piketnya masing-masing. Indah rasanya bisa berbagi pengetahuan dengan adik-adik yang sangat bersemangat sekali menuntut ilmu ini. Ada harunya ketika mereka dengan segala keterbatasan masih semangat belajar, sementara kami yang memiliki fasilitas yang mungkin memadai masih bermalas-malasan datang kekampus, malas membuat tugas, dan mengeluh dengan perkuliahan. Malu rasanya. Tapi, melihat mereka yang begitu semangatnya belajar membuat hati ini lebih bersemangat lagi untuk berbagi kepada mereka.

Malam harinya setelah menikmati makan malam yang cetar sekali rasanya walaupun ada seret-seretnya karena kurang kuah tapi tetap enak dimakan walaupun ada, yang mungkin ngedumel dalem hati karena seret. Tapi, selama perut kenyang dan masakan enak. Itu semua bisa dilupakan. Kami sangat berterimakasih kepada para wanita yang selalu memasak dengan hatinya untuk kami yang mungkin agak cerewet ini. Selesai makan, kami pergi untuk kenalan dengan Pak Ali selaku orang yang dihormati disana dan anak daru Mak Haji selaku pemilik lahan di kampung baru. Setelah itu, kami menikmati keindahan malam didepan posko, ditemani deburan suara ombak dan kerlap kerlip cahaya bintang. Memandangi indahnya negeri seberang malaysia dan lampu-lampu kelong yang seakan mengajak cumi-cumi untuk menari-nari dibawah sinarnya lalu kemudian ditangkap untuk dijual kepasar. Kasian sekali para cumi yang jadi korban php kelong Pak RT. Setelah dipanggil masuk kemudian ditangkap dan dijual. Kaya kamu yang menarik perhatian kemudian pergi ninggalin dan nyuruh dengan yang lain. Sakitt. Malah curhat penulisnya. Maaf khilaf.

Begitulah kira-kira kisah hari pertama dan malam pertama kami berada disana. Banyak cerita dan kebahagiaan yang selalu terkenang. Malam kemarin mungkin kita masih bersama, Malam ini mungkin kita sudah berpisah. Begitulah kehidupan. Bertemu mungkin obat rindu tapi melihat teman-teman disana sukses dengan bidangnya lebih dari sekedar bahagia, sangat bahagia. 

Nantikan part-part selanjutnya dengan kisah yang lebih menarik dan membahana. Penasaran dengan kisah cinta kkn? Penasaran seperti apa ali yang menghancurkan perbahasaan indonesia diposko? Atau penasaran dengan musa, sheldon, marianus yang selalu punya program kerja berfoto dengan turis asing? Tunggu kisah selanjutnya yaa. 

*Back Song Ingatlah Hari Ini

Menanti Pertemuan (Lagi)

Dalam hidup, menanti adalah hal yang membosankan. Tapi, tidak untuk menanti yang ini. Aku tak pernah tau kenapa kali ini aku sangat bersemangat menantikannya. Mungkin perlu waktu yang lama, mungkin juga perlu waktu singkat. Tapi, aku hanya perlu percaya takdir tuhan akan mempertemukan. Mempertemukan Aku dan Dia

Dia, Namanya Karina. Sesosok perempuan yang ntah kenapa tiba-tiba saja hadir dalam hidupku. Membawa senyuman, membawa kebahagiaan, dan untungnya dia masih jomblo. Kalo udah punya pacar kan gawat. Bisa-bisa disamperin ke bangka. Dia suka apa aja termasuk aku (katanya). Suka karena kelucuan ku. Dan aku suka hampir ga punya malunya dia. So far, we have so many persamaan. Mungkin persamaan-persamaan itulah yang membuat kami akrab walau cuma pernah bertemu singkat. Waktu itu, sekedar bercerita pun hampir jarang sekali. Bukan karena tak mau  bercerita, tapi waktulah yang membuatnya tak bisa. Kesempatannya belum ada.

Pertemuan kami bermula didalam sebuah kapal. Aku masuk kekapal lalu melihat seorang wanita berkacamata yang terlihat mempesona. Waktu itu aku biasa-biasa aja karena ga kenal. Cuma bergumam aja dalam hati, Alhamdulillah masih ada yang cantik dikapal ini. Kemudian, ditengah-tengah perjalanan ntah gimana ceritanya kami bisa bertegur sapa. Terus kenalan dan cerita dikit. Pengen lama tapi kapalnya keburu bersandar. Gajadi deh cerita lama-lamanya. Itulah pertemuan pertama.

Sejak saat itu, sejak tau namanya aku coba aja cek di grup, eh ada namanya. Liat nama lengkapnya dan cari-cari Ignya. Stalk aja kan biar ga penasaran orangnya kaya gimana. Abis itu, aku liat aja dari jauh orangnya gimana. Curi-curi pandang aja. Bukan karena ga berani ngedeketin, tapi terlalu malu untuk pura-pura duduk deket dan nyapa. Keberaniannya belum ada karena emang baru kenal, ntar kalo pacar orang kan gawat. Abis itu banyak temen yang ngajak duduk bareng dan cerita-cerita. Jadi, pertemuan keduanya ga ketemu. Cuma liat dari jauh. Berharap aja bisa ketemu lagi suatu hari. Cuma berharap aja kan ga apa-apa lah ya.

Waktu terus berlalu dan berlalu, dan kami dipertemukan kembali. Ini pertemuan ketiga. Kami dipertemukan dalam suasana malam dipinggir pantai diatas sebuah rumah panggung. Waktu itu, aku lagi laper. Jadi, ga bisa banyak cerita. Kerjaannya makan aja. Jujur aja kalo laper aku banyakan diem, soalnya kalo udah ngomong ga bisa diem. Jadi, dipertemuan ketiga ini kita masih belum banyak cerita. Berhubung aku terlalu lapar liat makanan yang banyak. Dan dia keburu balik lagi ketempat nginepnya. Dalam hati bergumam aja, Alhamdulillah masih bisa ketemu.

Setelah itu, kami bertemu kembali di malam perpisahan. Di suatu Aula dengan keindahan perpisahan yang luar biasa. Pertemuan kali ini, kami tak bertegur sapa. Iyaa, aku cuma liat aja karinanya dari jauh. Pengen ajak foto tapi ga berani dan terlalu malu untuk mengajaknya. Apaan kenalan bentar tiba-tiba ngajak-ngajak foto. Terlalu banyak pikiran-pikiran seperti itu waktu itu. Dan akhirnya, itulah terakhir kali aku melihatnya. Nyesel ada, tapi mungkin ini jalan tuhan biar ada rindu.

Hingga akhirnyaaaaa, sekarang kami bisa jadi akrab. Gatau gimana ceritanya tiba-tiba nyambung aja kalo chat bareng. Mungkin karina gatau kalo dulu aku gitu, abis ini bakalan ngumpet dibalik guling karena dia udah tau aku dulu gitu. Malu-maluin banget ceritanya-_- Sekarang yang penting udah sering ngobrol kan walaupun jauh. Dan rasa penasaran akan sosok karina yang gimana itu akhirnya buat aku semakin penasaran sama tingkahnya yang ngegemesin. Kita sukanya kelahi-kelahi manja, suka apa aja pokoknya yang buat bahagia. Walaupun di masa lalu, mungkin kami mengalami fase hati yang retak setidaknya sekarang dalam pertemanan ini bisa disembuhkan dengan kebahagiaan dan senyuman yang dihadirkan.

Untuk karina, kita ga pernah tau bakal gimana kedepannya. Apakah bakal dipertemukan atau engga. Tapi, aku yakin jalan tuhan itu pasti ada. Cepetan lulus ya karinanya, cepetan S2 ditempat yang sama biar kita bisa dipertemukan kembali. Biar bisa cerita banyak, biar bisa terus ngebahagiain. Sambil menanti saat-saat itu, terus berjuang dan berjuang. Terus bersemangat. Terus berproses dan berproses. Gaboleh ngambek lagi karena aku udah buat tulisannya. Pokoknya aku akan menanti saat dimana kita bertemu.

One day, kalo udah ketemu jodoh jangan sombong-sombong yaaa. Awas aja sombong nanti jadi gendut. Makasih karena selalu ada untuk sekarang yaa. Aku gatau mau bilang apa, karena kamu lebih dari apa yang bisa aku katakan. Semoga nanti kita bisa dipertemukan (lagi)

Aku mau ngumpet duluuu yaaa abis kamu baca ini. See u soon karinaaaaa!!
Dari ajie, teman mu yang sukanya ngelucu dan emang orangnya lucu. Gantengnya mungkin ga banyak, tapi bisa ngebahagiain yang banyak.