BDP, In Love (Part 1)

Pendahuluan 

Aku bertemu meri, seorang teman satu angkatan yang bukan cewe. Setelah mendengar dia bercerita tentang bagaimana kalau dibuat suatu tulisan tentang perjalanan anak-anak BDP angkatan kami. Aku seperti merasakan suatu hal baru dikehidupanku yang lama untuk dituangkan kembali. Terasa seperti perasaan yang rindu akan kenangan dulu yang otomatis hidup kembali. Kenangan dari maba yang masih polos hingga mahasiswa tingkat akhir yang harus bergalau dengan skripsi yang begitu sweet. 

Saat mendengar cerita meri di saung semangat BDP waktu itu. Aku banyak berpikir dan menghabiskan waktu tentang apa yang harus dilakukan. Kukira apa yang meri katakan bukanlah hal mustahil dan sebuah omong kosong. Bagiku, apa yang dikatakan meri adalah suatu hal menarik, akan jadi suatu cerita yang membuat mengenang kembali perjalanan masa lalu. Sebuah keromantisme kenangan. 

Azmi, Tio, dan Dobi yang waktu itu bersama kami disaung semangat pun mengiyakan untuk membuat tulisan itu. Setiap orang dari kami harus membuat kisah perjalanan kami sendiri dan akan digabungkan menjadi satu. Menjadi bingkai kenangan terindah dalam perjalanan hidup kami.

Meski, Azmi akan memulai membuat tulisan itu ketika sudah menyelesaikan Bab III dari skripsi. Walaupun sampai sekarang masih proses mengumpulkan semangat. Sedangkan meri, masih mengurusi proposal field trip kami ke belitung dan akan segera mulai menulis kisah itu setelah menyelesaikan proposal skripsi. Tio dan dobi akan segera menulis juga, walaupun aku tak tahu kapan. Lalu, aku mulai membuat pendahuluan dari awal cerita tulisan ini. Setidaknya aku memulai terlebih dahulu menulisnya. Agar teman-temanku tinggal melanjutkan saja. 

Pikiranku mengatakan, aku beruntung memiliki teman seperti mereka. Teman yang selalu memiliki ide-ide baru yang bisa membantu untuk mengingat masa-masa yang sudah berlalu. Kupikir, ketika itu jadi sebuah tulisan, kenangannya tinggal dibaca saja, gak perlu mikir-mikir lagi apa saja yang dulu pernah kami alami. Tinggal baca dan siapa tau jadi penginspirasi buat orang lain. Itu, membuat semangat ini menyala untuk menulisnya.

Malam itu, setelah musui ( sejenis kegiatan kumpul bareng bersama teman dan minum air pusui (air tahu) dan dibumbui dengan berbagai cerita) kami pergi ke salah satu tempat perbelanjaan yang ada di kota pangkalpinang. Cuma melihat saja awalnya, pengen beli tapi gabisa nawar. Akhirnya, cuma meri saja yang membeli kopi untuk di kosnya. Sisanya, melihat saja. 

Tapi, waktu ingin pulang, Hujan begitu lebatnya turun tanpa memberi celah kami untuk pulang. Andai saja hujan waktu itu turunnya ditengah jalan saja, sehingga kami bisa lewat pinggir. Namun, hujan tak begitu. Dia turun serentak, beraninya keroyokan. Bukannya kami takut, cuma kalau basah nanti kami sakit. Kalau sakit, kami masih belum bertemu jodoh. Belum ada yang menghangatkan, walaupun sekoteng bisa saja menghangati kami. Tapi, itu beda. Apalagi anak kos, orang tua jauh. Belum lagi kami akan UTS sebentar lagi. Jadi, kami mengalah saja kepada hujan. Hari ini hujan menang, lain kali akan kami kalahkan dengan memakai payung atau jas hujan. Suatu Pembalasan Dendam. Jangan ditiru ya.

Di atas tangga sambil menunggu hujan reda, kami duduk lalu bercerita. Meri kembali bercerita tentang tulisan itu. Cerita itu, seakan-akan suatu bujukan bagiku untuk mau membantu dia mewujudkan tulisan tentang kami semua. Sebuah bujukan yang sebenarnya terus membuat aku berpikir harus dimulai dari mana kisah ini. 

Aku pikir aku harus mulai dari membuat mengapa tulisan ini sampai dibuat. Cerita ini akan dimulai dengan pengenalan singkat tentang jurusan, dosen-dosen, diriku, teman-temanku, dan beberapa informasi lainnya, baik itu kenangan yang dianggap sebagai hal yang cukup berpengaruh dalam perjalanan kami semua. Karena perjalanan akan menghasilkan pengalaman yang akan terus sepanjang waktu memengaruhi hidup seseorang.

Harapannya, setelah ini, semua dari kita dapat menjadi lebih menghargai dan merindukan masa lalu dengan bijaksana tanpa mengadilinya ketika keadaan masa kini berbeda.

                                    ***

BDP

Mari kita mulai. Jurusan ini bernama Budidaya Perairan atau sering disingkat BDP, Jenis kelaminnya tidak ada karena bukan makhluk hidup, dulunya bernama D3 perikanan dan masuk di Fakultas terunik di Dunia bernama Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi. Fakultas yang hanya ada satu-satunya di dunia dan akhirat. Pada 2015, waktu aku semester 5, mendapatkan akreditasi B dari lembaga akreditasi nasional. Semua orang tak percaya, sedangkan kami percaya bahwa usaha dan perjuangan selama ini pasti memberikan hasil terbaik.

BDP terlahir dari Rahim D3 perikanan. Iya, dulunya D3. Tapi,  harus jadi S1 dan munculah Budidaya Perairan pada tahun 2012. Pada 2013 mulai menerima mahasiswa baru yang ntah darimana bisa saja nyasar dan tersesat di BDP ini. Mahasiswa pilihan dari tuhan yang akan membuat cerita pertama di BDP. Iya, menjadi angkatan pertama dan akan selalu jadi yang pertama di jurusan ini. Buat adik-adik, kalian tidak boleh iri. Salah sendiri kenapa lahirnya lebih lambat dari kami. Syukuri saja dan selalu bersabar.

Asal tahu saja,  BDP bukan hanya sekedar jurusan  tempat mencari Ilmu. Tapi, lebih dari itu. BDP adalah tempat semua hal indah bernama kenangan itu terjadi. BDP adalah keluarga. Akan selalu dirindukan sampai kapanpun itu. BDP akan selalu jadi jurusan terbaik, Orang-orang harus tau itu, begitu banyak kenangan, baik bersama dosen, teman-teman, dan BDP itu sendiri. Bagaimana para mahasiswa tumbuh bersama disana, ada yang rajin, nakal, rajin-rajin nakal, nakal-nakal rajin. Rasanya, semua begitu cepat berlalu. Penuh kehangatan. Dan, saat mengingatnya kembali, Betapa aku Mencintai semua tentang BDP, lalu ingin rasanya sebagian diri ini balik lagi ke masa awal perjuangan itu. Masa menjadi mahasiswa baru. Sangat rindu. 

Bersama teman-teman seangkatan, BDP menjadi saksi bisu perjalanan kami semua, menjadi tempat spesial dihati kami, tanpa ada materi bela negara saat spesivix (Ospek) yang menginap dari korem pun, kami siap membela ketika ada yang menjatuhkan BDP. Ini bukan suatu hal kosong atau omong kosong, hal inilah yang bisa kami lakukan ketika tempat kami tumbuh selama ini dijatuhkan, BDP ini, dengan semua unsur didalamnya adalah harga diri kami. Jangan pernah ada yang berani menginjaknya. 

Perjalanan hidup terus berkembang, BDP selalu menunjukkan taringnya. Banyak prestasi-prestasi yang dihasilkan dari anak-anak yang terlahir dari rahim BDP. Suatu bukti nyata, BDP menghasilkan generasi yang unggul dan berprestasi. Suatu buah manis yang ketika lulus nanti bisa dinikmati siapa saja. Semua berkat hal bernama keluarga tadi. BDP menyatukan seluruh elemen yang ada didalamnya. Ketika dosen dan mahasiswa saling bersemangat untuk mencapai Visi yang sama. Wajar saja semua hal itu terwujud. Karena perjuangan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik. Itu fitrah kehidupan. BDP akan selalu jadi mata air kebaikan bagi siapa saja. Itulah harapannya. Kebermanfaatan bagi sesama.

Itulah BDP, Aku harus bercerita tentang semua hal yang ada didalamnya. Aku rasa, cerita diatas harus aku ceritakan untuk memahami bagaimana tempat kami tumbuh selama kuliah ini. Tempat yang ada begitu banyak kenangan didalamnya, dan cerita ini hanya salah satu bagian dari yang bisa aku ceritakan. Aku dan teman-temanku akan selalu menunggu kelahiran generasi BDP baru yang harus lebih baik dari kami angkatan pertama. 

Aku pikir bahwa kami memiliki perjalanan yang benar-benar indah dan bahagia di BDP. Kami selalu merasa bersemangat ketika menjalani hari-hari perkuliahan  Dan aku menikmati masa perkuliahan bersama teman-teman dengan kadang-kadang percaya bahwa ikan-ikan mengerti ketika aku ajak bicara dengan bahasa manusia.

Dan di bawah ini, aku buat sebuah puisi yang aku buat khusus buat BDP:

BDP

Pada suatu hari di tahun 2013, BDP mempertemukan kami

Kami membuat kisah didalamnya

Dan mengenangnya kembali

Untuk suatu hari nanti kami akan merasakan kembali kenangan itu

Kami akan memikirkan kembali cerita itu

Tunggu, kami bereuni BDP!

(Ajie, 2016)

Soekarno Iri

BDP akan selalu membuat seorang soekarno iri

Kalau soekarno masih hidup, dia akan kuliah disini

Soekarno cinta laut, pasti cinta BDP

Itulah BDP, Siapapun ingin berada bersamanya 

(Ajie, 2016)
*Bersambung