Senja, kenapa aku selalu rindu? 

“Aku pecandu senja, semakin sering aku bertemu, semakin aku tak pernah ingin dia berlalu”

Ada apa dengan senja? Kenapa aku selalu rindu kepadanya? Apakah senja itu kamu? Bisakah kamu hentikan semua ini?  Hentikan rindu ini. Bisakah? 

Lalu, biarkan Kali ini aku bercerita. Cerita ini tentang sebuah senja yang dirindukan. Asal tau aja, cerita ini ga bakal kalah saing sama film fenomenal bernama surga yang tak dirindukan. Karena senja ini selalu aku rindukan. 

Ribuan kilo jarak yang ku tempuh mencari senja ini, dia Indah, sangat Indah, walau pertemuannya sesaat tapi akan selalu teringat. Senja ini memberikan kesan yang tak dapat dilupakan. Dia melukiskan senyuman dalam diri ini. Membuat hati, otak, dan pikiran selalu rindu ingin bertemu kembali. Namun, apalah daya. Senja itu hanya berlalu begitu saja, dia tak pernah kembali atau mungkin belum akan kembali. Aku hanya bisa berharap dan menunggu pertemuan kembali itu atau aku hanya perlu menanti senja lain yang akan membuat ku berpaling dari senja lama itu. Karena hingga saat ini aku belum benar-benar temukan senja baru untuk menggantikannya. 

Aku memang menikmati semua senja yang datang, tapi tak ada senja yang merenjana waktu itu. Senja yang membuat hati bahagia ketika menatapnya walau dari kejauhan. Senja yang walau jauh, memiliki daya gravitasi sangat kuat untuk menarik perhatian hati. Dasar senja yang merenjana, kenapa kau buat rindu sesesak ini dengan sapaan sesaatmu. 

Dan pada akhirnya secandu candu aku pada senja, aku tau dia hanya sesaat dan membuat sesak dengan keindahannya.  Karena senja itu, tampak Indah pada luarnya. 

Pada akhirnya aku tau, yang aku butuhkan adalah kamu. Kamu yang tidak hanya sesaat tapi akan bersama.  Kamu yang tidak hanya bersama tapi akan bersatu selamanya.  Siapakah kamu? Bisakah kita berkenalan? Karena kamu akan jadi manusia yang aku rindukan untuk bertemu. Kamu yang aku belum tahu rupamu bahkan namamu. Jadi, mari kita berkenalan di bumi dan lantas akan ku bawa kau kembali ke tempat kita berasal. Tempat itu bernama surga.

Lalu, izinkan aku bertanya. Maukah hidup bersama dan melakukan itu semua? Tentu saja bersama ku.  Seorang penikmat senja merenjana yang selalu rindu akan hadirnya dirimu.  

Lantas, jika kamu bersedia aku bukan lagi penikmat senja yang merenjana. Aku adalah lelaki yang akan membawamu menuju surga ilahi. Karena senja tak kan bisa mengalahkan rasa Cinta padamu karena Allah.  

Aku ajie, menunggu mu menggantikan senja disudut rindu.  Cepatlah datang, cepat!