Batas Waktu

Kelak, kita akan menikmati senja ini berdua. Sembari bercerita dengan bahagia terlukis melalui senyuman diwajah. Bersamamu akan kuabadikan kenangan Indah selama di dunia. Mau, ya?

Asing, begitulah tentang kita untuk saat ini. Suatu waktu, bolehkah kita menyapa kembali? Bercerita tentang apa saja yang menyenangkan? Lalu, belajar melupakan rasa kecewa yang pernah memisahkan, Tanpa pernah lupa untuk saling mengingati perjalanan bersama selanjutnya. Untuk itu, bersama senja dan renjananya, bisakah kita memulai kembali kebersamaan? Karena keterasingan sudah memupuk rindu terlalu dalam.

Sekarang, tentang mu akan selalu dijaga. Bahagiamu, akan selalu menjadi hal yang diusahakan. Namun, kita harus saling mengerti bahwa bersama tak selalu ada bahagia. Kadangkala, ujian kesedihan dan kekecewaan akan selalu hadir. Karena itu, bisakah kita saling menguatkan kembali? Saling menjaga? Tanpa pernah berpikir untuk melepaskan dan pergi, kembali?

Dan, pada batas waktu kebersamaan. Kuharap, Akhir perjalanan kita akan berbahagia. Baik-baiklah sekarang dan nanti. Disini, aku tak ingin mengatakan baik-baik saja. Karena tanpa hadirmu, hati selalu ingin bertemu.

Karena kau harus tahu, jarak dan keterasingan menyadarkan seseorang apa itu artinya kehadiran dan penyesalan. Lalu, jika kau masih terus ingin menjadi asing. Percayalah, aku disini akan menunggu. Mungkin, aku tak sanggup menunggu selamanya, tapi hatiku berkata harus sampai ujung usia. Terimakasih sudah datang. Detik saat kepergian mu adalah batas akhir dari kebersamaan. Dan jika masih ada temu, semoga kita masih bisa bersatu.

*Batas waktu dihasilkan dari kisah beberapa orang yang ingin kembali bersama seseorang yang dicintainya. Yang lantas menjadi aksara. Terimakasih untuk kisah yang selalu teman-teman hadirkan. Yang lantas menjadi inspirasi dalam setiap tulisan. Kalian, adalah inspirasi terbaik